Mimpi yang pertama ini lokasinya dalam sebuah ruangan bercat putih. Tidak terlalu besar, mungkin sebesar ruang kerja Ibuku yang 3 x 5 meter itu. Aku berdiri menghadap jendela di sisi dinding yang panjang. Aku tengah mengatur lemari etalase kaca kecil yang di dalamnya terbagi menjadi dua rak. Sepertinya di ruangan itu masih ada satu orang lagi. But I'm not sure who she was. So yea I know she was a woman. Mungkin
nyokapku.
Gak lama datang seorang bapak2 yang mau membeli vodka (sejenis minuman keras). Karena posisi jendela itu kira2 setinggi pundak manusia dewasa dibandingkan dengan jalan di sisi luar ruangan, so bapak2 itu hanya terlihat kepalanya dan tangannya yang terjulur melalui jendela nako. Bapak2 ini sudah cukup tua tapi tidak beruban. Kulit mukanya berwarna coklat gelap seperti terpanggang matahari, dan sudah berkerut2 dengan tipe kerutan seperti orang yang biasa hidup keras.
Selagi aku mengangkat muka untuk meresponi dia, aku melihat sekilas di latar belakang bapak itu ada jalan aspal yang cukup lebar di sisi tebing batu2 buatan (untuk mencegah tanah longsor) yang biasa kamu lihat di luar kota.
Lalu aku melihat buku catatan harga, karena aku tidak tahu harga sebotol vodka. Aku ingat ada dua jenis harga : Rp 4000 sekian dan Rp 3225. Aku bilang ke bapak itu kalo harganya 4000. Aku meraih sebotol vodka dari dalam lemari etalase yang nyaris kosong itu. Seingatku ada dua botol vodka dan benda2 lain yang tak jelas apa. Ketika ternyata ia ingin membeli botol yang kecil, aku meralat harganya jadi Rp 3225.
Bapak itu menyodorkan beberapa lembar uang sambil sedikit terhuyung. Aku ingat ada lembaran seratus ribuan, ribuan dan beberapa uang logam. Di saat itulah aku sadar kalo bapak itu sedang mabuk. Jadi aku buru2 memanggilnya yang sudah mulai bergerak menjauh. Dia bergerak ke sisi kanan yang jalannya semakin menurun. Sekarang posisi jendela jadi di atas kepalanya. Aku melemparkan uang seratus ribuan-nya terlebih dulu. Mengambil tiga lembar ribuan. Lalu memeriksa recehnya. Aku ingat betul melihat satu-dua keping dua puluh limaan. Sisa recehnya kemudian aku kembalikan juga dengan menjatuhkannya dari jendela.
===========================================================
Beberapa hal yang memang benar2 ada :
1. lemari kaca kecil, aslinya memang dalam kondisi hampir kosong.
2. ruangan berdinding putih (ruang kerja ibuku). Tapi aslinya jendelanya di sisi pendek ruangan, dan tidak terletak di pinggir jalan.